Kita bertemu
dalam dakap dingin dewan
sesekali hangat perdebatan
mengheret hati dan perasaan
sebentar terpadam sebuah
peta nusantara di dalam dada
namun di meja makan
segalanya kembali
terlukis indah.
Di bangku belakang
bagai juruhebah
di bibir bertenggek ulasan
sesekali teman mengingatkan
dengan jeling dan isyarat
tangan.
Di sana kita bertemu
dengan teman dan rakan
memperbaharui kenangan
dan menambah kenalan
bercerita di meja makan
senyum ketika berpapasan
berjabat tanda kemesraan
berlama meneman pagi
dengan segelas teh tarik
mamak tersengguk mengira untung
kita bercerita seputar buku
kita bercerita seputar
orang ini dan itu
sesekali melencong ke daerah
siasah yang gelisah
akhirnya kita kembali
ke dunia kita yang kecil
tetapi meriah dengan kisah.
Di sana kita
berkeringat,makan dan tidur
dengan roh puisi
dalam semangat satu nusantara
di renyai petang
suara penyair menjajah
segenap ruang menara
biar pun garang irama disko
berselang bingit menujah telinga.
Sebaik bangkit dari tidur
hati bertanya
apakah dua puluh tahun lagi
tidur bisa senyenyak
malam tadi dan rumah ini
bisa meminjamkan ruang
untuk jasadku terlentang
bersama nassury, lutfi
hamir dan nazri?
(Dalam kabut pagi
berdiri aku di laman
menatap seorang tua
kini dalam kandang akhir
menunggu algelojoh tiba)
Sahrunizam Abdul Talib
20-22 November 2009
Kuala Lumpur
MENCIPTA PUISI
5 hours ago